“Gen Z terlihat paling antusias, namun di ruang digital terutama Twitter/X, gelombang kritik deras mengalir,” ungkapnya.
Semua ini menunjukkan satu hal bahwa keberhasilan program bukan hanya soal niat, tetapi juga soal keadilan distribusi dan komunikasi menyentuh semua lapisan.
Kendati ekonomi tersandung, tingkat kesukaan terhadap Prabowo masih luar biasa (89,9 persen).
Namun cinta publik adalah pedang bermata dua. Semakin disukai, semakin tinggi pula tuntutan untuk membuktikan cinta itu layak.
“Gabungan seluruh temuan ini menegaskan
Pemerintahan Prabowo-Gibran telah menciptakan narasi disukai, tapi kini harus menghadirkan kenyataan dibutuhkan,” papar Adjie.
“Stabilitas politik, legitimasi global, dan citra kepemimpinan adalah aset besar. Namun ekonomi adalah nadi menentukan hidup atau matinya kepercayaan publik”.
Menurutnya, tahun pertama ini adalah cermin memperlihatkan wajah harapan sekaligus luka. Rakyat bangga melihat Prabowo di PBB, tetapi juga menunduk di depan kenaikan harga beras.
Untuk mencapai loncatan ekonomi, beberapa hal perlu dipertimbangkan. Pemerintah dapat mengalihkan energi diplomasi ke economic statecraft.
