“Karena bentuknya partikel, ia bisa menempel di kulit dan pakaian, memperpanjang paparan bahkan setelah kita meninggalkan area berpolusi. Meski hujan dan angin bisa menurunkan polusi sementara, partikel ini sebenarnya hanya berpindah, jatuh ke permukaan mencemari tanah, air, tanaman, atau terhirup tubuh. Kita bisa proaktif meningkatkan kesadaran, seperti rutin memantau tingkat polusi secara real-time, untuk membantu kita mengambil langkah mitigasi personal sembari mendorong solusi dari sisi sumber,” lanjut Dinda.
Dampak paparan PM2.5 tidak hanya berisiko bagi kesehatan, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari. Partikel mikro ini dapat menempel dan “memperpendek usia pakaian”, membuat warna baju cepat kusam, menjadikan serat kain menjadi kasar dan mudah rusak.

