Insentif ini diharapkan dapat mendorong penguatan kapasitas dosen untuk metodologi penulisan risalah yang khas Ma’had Aly, tidak sekadar meniru pola akademik PTKIN yang terlalu kaku pada metodologi dan kurang menggali substansi kitab turats. Menurutnya, distingsi yang jelas diperlukan untuk menentukan arah pelayanan negara, standar mutu, serta bentuk bantuan yang relevan.
“Ma’had Aly tidak boleh identik dengan PTKI. Jika orientasinya hanya menjadi guru atau dosen, lalu apa bedanya? Di sinilah kita harus menegaskan ontologi, epistemologi, dan aksiologi Ma’had Aly agar kekhasan keilmuan pesantren tetap terjaga,” kata doktor UIN Makassar.
Basnang juga berharap Ma’had Aly berkontribusi dalam ekosistem Artificial Intelligence (AI). Basnang menyebut bahwa AI—yang ia sebut sebagai “akal imitasi”—akan menghasilkan konten sesuai dengan input data yang diterimanya. Jika Ma’had Aly tidak menyuplai konten keilmuan, narasi keagamaan di ruang digital akan didominasi kelompok lain.
“Jika risalah akhir atau skripsi, dan karya ilmiah dari Ma’had Aly tidak dipublikasikan dan diinput ke sistem, maka AI tidak akan pernah memunculkan perspektif pesantren. Kita hanya akan menjadi pengguna, bukan produsen pengetahuan,” ungkapnya. (ahmad)
