“Kita juga tidak boleh mau kalah. Kita harus bersaing secara sportif dengan menunjukkan olahraga pencak silat ini kan dari Indonesia, jadi kita tidak boleh kalah juga,” ujar Fiqi menambahkan.
Sementara itu, Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia untuk ISG 2025, Endri Erawan, menilai hasil ini sebagai bagian dari proses pembelajaran penting bagi para atlet muda Indonesia.
“Kita datang ke ISG bukan hanya membawa semangat kompetisi, tetapi juga misi besar untuk memperkenalkan pencak silat ke dunia. Ajang ini jadi pengalaman berharga bagi atlet kita sekaligus momentum menduniakan olahraga warisan Indonesia,” ujar Endri.
Senada, Manajer Tim Pencak Silat Indonesia Bayu Syahjohan, menegaskan bahwa PB IPSI tidak membebani tim dengan target medali di ISG kali ini. Fokus utama adalah memperluas jangkauan dan partisipasi internasional pencak silat.
“Kami bersyukur banyak negara Timur Tengah mulai menaruh minat pada pencak silat, seperti Arab Saudi dan Yaman. Ini bukti perkembangan signifikan. Bagi kami, ini bukan soal hasil semata, tapi bagian dari road to Olympics untuk menjadikan pencak silat olahraga global,” tutur Bayu.
