“Kami sepakat lebih banyak hal dari yang saya pikirkan,” ujarnya dilansir Reuters,.
“Kami punya satu kesamaan: kami ingin kota kita yang kita cintai ini menjadi sangat baik.”
Pertemuan di Ruang Oval, tempat Trump terkadang mempermalukan atau mencela tamu negara, jauh melampaui prediksi Trump sendiri yang sebelumnya mengatakan pertemuan itu hanya akan “cukup ramah.”
Keduanya memang tidak mengumumkan kebijakan baru, namun pertemuan tersebut tampak menandai awal hubungan profesional yang tak terduga dan berpotensi mengubah dinamika politik New York.
“Yang sangat saya hargai dari Presiden adalah bahwa pertemuan yang kami adakan ini tidak berfokus pada area perselisihan, yang memang banyak, tetapi berfokus pada tujuan bersama kami dalam melayani warga New York,” kata Mamdani.
Trump pun menimpali, “Semakin baik ia bekerja, semakin senang saya.”
Kemenangan Mamdani dalam pemilihan awal bulan ini sempat diwarnai ancaman Trump yang berencana memotong dana federal bagi New York City.
Di sisi lain, Mamdani menentang keras sejumlah kebijakan Trump, termasuk peningkatan operasi penegakan imigrasi federal di kota yang 40 persen penduduknya adalah warga kelahiran luar negeri.
