Dalam beberapa pekan terakhir, Trump bahkan menyebut Mamdani sebagai “radikal kiri gila”, “komunis”, hingga “pembenci Yahudi” tanpa memberikan bukti yang jelas
Padahal Mamdani lebih condong pada sosialisme demokrat ala negara-negara Nordik. Ia juga dikenal sebagai kritikus kebijakan Israel, namun mendapat dukungan politisi Yahudi terkemuka dan memasukkan sejumlah pejabat keturunan Yahudi dalam jajaran pemerintahannya, termasuk Komisaris Kepolisian New York Jessica Tisch. Ia pun berulang kali menegaskan penolakannya terhadap antisemitisme.
Ketika wartawan menyinggung kembali saling serang verbal keduanya, Trump dengan santai menanggapinya.
“Saya pernah dipanggil jauh lebih buruk dari ‘despot’,” katanya sambil tersenyum.
“Jadi itu tidak terlalu menghina, tetapi saya pikir dia akan berubah pikiran setelah kami mulai bekerja sama.”
Trump bahkan membela Mamdani, yang akan menjadi wali kota Muslim pertama New York dan berasal dari Uganda, dari sejumlah tudingan Islamofobia.
“Tidak, saya tidak berpikir demikian,” jawab Trump ketika seorang wartawan bertanya apakah ia percaya ada “seorang jihadis” berdiri di sebelah kanannya. “Saya bertemu dengan pria yang sangat rasional.” (far)
