Puspitaningrum menyampaikan, tingkat literasi perempuan masih lebih rendah di bawah laki-laki. Membuktikan bahwa memang masih ada yang belum memahami atau meyakini betul mengenai produk atau layanan keuangan yang digunakan sehari-hari.
“Dari sisi itulah, OJK menjadikan perempuan sebagai salah satu sasaran prioritas program peningkatan literasi dan inklusi keuangan,” ungkap Puspitaningrum.
Menurutnya, edukasi dilakukan sudah cocok sekali dengan teman-teman yang sebagian besar hadir adalah perempuan.
“Sudah in line sekali dengan apa yang sedang diupayakan oleh OJK untuk menuju tingkat literasi di 98 persen,” ujar Puspitaningrum.
Selain itu, agar terhindar dari penipuan dan kejahatan keuangan, masyarakat agar selalu mengingat tips 2L (Legal dan Logis) sebagai filter awal untuk membedakan penawaran produk keuangan ilegal atau yang berizin resmi dari OJK.
Head of Corporate Affairs & Engagement Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Gledys Sinaga menjelaskan bahwa peningkatan literasi perempuan sebagai motor penggerak ekonomi keluarga turut berkontribusi pada tumbuhnya perilaku finansial yang bertanggung jawab di masyarakat.

