Namun semarak peringatan Hari Guru tahun ini tidak hanya bicara nostalgia. Hadirnya guru-guru dari berbagai agama dalam satu kayuhan onthel menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman. Gowes lintas iman menjadi simbol bahwa ruang belajar adalah ruang kebangsaan—tempat perbedaan tumbuh sebagai kekuatan, bukan sekat. “Kita semua adalah keluarga guru,” ujar Menag, menegaskan bahwa profesi pendidik mempersatukan siapapun tanpa melihat latar belakang keyakinan.
Di tengah pesan kebangsaan itu, Menag juga menyoroti pentingnya menghargai seluruh unsur pendukung pendidikan yang sering luput dari perhatian publik. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak hanya bertumpu pada guru sebagai garda depan, tetapi juga tenaga kebersihan, penilik, guru bantu, tenaga administrasi, hingga kepala sekolah yang bekerja dalam satu ekosistem yang saling menopang.
“Jangan hanya hormati gurunya, tetapi juga pesuruh sekolah—sekarang disebut cleaning service—penilik, administrator, semua yang menjaga pendidikan tetap berjalan,” katanya. Pernyataan tersebut menjadi pesan kuat bahwa mutu pendidikan ditentukan oleh kerja kolektif, bukan hanya satu profesi.
