“Di Indonesia, kami menanamkan pendidikan berakhlak sejak dari hulu. Kami memberikan bimbingan pranikah kepada calon pengantin agar tercipta keluarga harmonis,” jelas Menag.
Ia menambahkan, keluarga yang kuat akan melahirkan anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
“Dari keluarga harmonis akan tumbuh anak-anak yang merasa aman, dicintai, dan memiliki contoh nyata tentang kebaikan,” ujarnya.
Fr. Enzo Fortunato dari Pontifical Commission World Children’s Day Vatikan menyampaikan tiga filosofi penting dari dunia anak yang menurutnya semakin hilang dalam kehidupan orang dewasa.
Pertama, kepercayaan murni. “Anak-anak mengulurkan tangan kepada orang tuanya tanpa keraguan. Mereka percaya sepenuhnya. Ini adalah pengingat bahwa hubungan dewasa kini rapuh karena hilangnya rasa percaya,” ujar Fr. Enzo.
Kedua, menghormati batas dan perbedaan. Ia menilai anak-anak tahu kapan harus berhenti bermain saat ada yang tersakiti. Hal ini lanjut Fr. Enzo, adalah sebuah kemampuan yang sering hilang pada orang dewasa dalam berdebat dan berdialog.
