“Harapannya, kami bisa terlibat dalam tiga fokus kebijakan ke depan, pertama reformasi regulasi perdagangan ritel. Kedua, kebijakan fiskal yang memberi insentif, dan ketiga, kemitraan strategis antara pemerintah, asosiasi, dan swasta,” ujar Solihin.
Pandangan senada disampaikan oleh Abdul Latief, penggagas Aprindo, menilai bahwa sektor ritel memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
“Ritel ini sangat sensitif. Baik ritel besar maupun kecil punya peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Jika terjadi gejolak di sektor ini, dampaknya bisa terasa luas,” jelas Abdul Latief.
Sejatinya, puncak perayaan HRN 2025 juga menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun ke-31 Aprindo. Perayaan ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketum Aprindo, Solihin, diserahkan kepada Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan akrab disapa Zulhas, disaksikan para tamu undangan dan pelaku industri ritel.
Pada kesempatan itu, Aprindo pun meluncurkan buku “Strategi dan Inspirasi dari Hari Ritel Nasional 2025” merangkum dokumentasi dan pembelajaran dari rangkaian kelas daring Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Naik Kelas. Buku tersebut diserahkan langsung kepada Menko Zulhas sebagai simbol komitmen Aprindo terhadap penguatan kapasitas UMKM nasional.
