“Kalau ada teman yang dibully, jangan dijauhi — rangkul dia. Justru saat teman sedang berada di titik terendah, kita harus hadir dan menenangkan. Itulah makna rohani yang sesungguhnya,” pesannya.
Raffi juga menekankan bahwa kekuatan iman dan empati adalah benteng utama dalam menghadapi tekanan sosial di dunia digital. Ia menilai bahwa setiap pelajar harus membangun kesadaran diri untuk menggunakan teknologi dengan tanggung jawab moral.
“Sekarang semua bisa viral. Tapi jangan hanya kejar terkenal, lupa tanggung jawab. Gunakan media sosial untuk hal baik, untuk jadi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Selain itu, Raffi menuturkan kisah hidupnya yang pernah jatuh ke masa kelam dan bangkit berkat doa ibunya. Dari pengalaman itu, ia menegaskan bahwa dukungan keluarga dan kekuatan spiritual dapat menyelamatkan seseorang dari keterpurukan.
“Saya pernah jatuh, tapi doa ibu saya yang mengangkat saya kembali. Makanya iman dan keluarga itu harus jadi pegangan, apalagi di tengah dunia digital yang penuh godaan,” ungkapnya.
