Ia menegaskan, ketiga pilar itu adalah jalan hidup untuk memanusiakan manusia.
Sementara Dr. Benny Matindas mengingatkan agar ST4 tidak berhenti sebagai slogan. “ST4 adalah filsafat hidup, bukan sekadar semboyan,” katanya.
Benny menelusuri sejarah ST4 yang dipopulerkan pertama kali oleh Ratulangi tahun 1925 di Amurang, dan menegaskan maknanya sebagai dasar etika kemanusiaan.
Sedang diakhir sesi, Jeirry Sumampouw, Direktur Eksekutif SRIN, menilai ST4 sarat nilai humanisme kritis dan demokratis.
“Ratulangi memadukan semangat humanisme Eropa dengan egalitarianisme khas Minahasa,” ungkapnya.
Ia menekankan, ST4 menumbuhkan tanggung jawab sosial, etos Mapalus, dan semangat pelayanan. “Manusia sejati adalah pelayan kemanusiaan, bukan sekadar rakyat,” tegasnya.
Warisan Universal
Seminar ini menegaskan kembali bahwa Si Tou Timou Tumou Tou bukan sekadar semboyan daerah, melainkan falsafah universal yang melandasi peradaban kemanusiaan.
Warisan pemikiran Sam Ratulangi itu kini menemukan relevansinya kembali: menjadi dasar moral dan spiritual bagi generasi baru Indonesia dalam membangun masyarakat yang memanusiakan manusia. (*)
