Menurut Sandiaga, di era disrupsi ini, universitas telah bertransformasi menjadi laboratorium lifelong learning, di mana proses upskilling, reskilling, dan new skilling terjadi secara berkelanjutan agar para lulusan mampu menjaga relevansi (upkeep) diri.
Menghadapi tantangan kecerdasan buatan (AI), Sandiaga Uno mengingatkan bahwa teknologi memiliki batasan dan peran manusia tidak tergantikan. “AI tidak dapat mendidik kita (sepenuhnya), namun hati adalah qolbu sesungguhnya. Profesionalisme yang dibangun dari hati inilah yang kita perlukan untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Beliau mendorong para lulusan untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi menjadi penggerak ekonomi. “Maka dari itu, kita kerja bukan hanya untuk menghasilkan, namun juga menggerakan. Kita harus kembali lagi kepada ekonomi kreatif yang menggerakan masyarakat,” serunya.
Sebagai penutup, Sandiaga Uno memberikan pesan penutup yang kuat. “Indonesia dengan bidang kreatifitas yang mampu menerobos pasar luar negeri sesungguhnya memberikan peluang besar bagi kita semua!. Kini, selain menjadi follower, jadilah pula seorang inovator yang mampu menggerakan bangsa. Jadilah bagian dari pembelajaran menuju Indonesia Emas 2045. Bukalah peluang dan berkontribusilah bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
