Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, memastikan iklim ekspor di wilayahnya masih kondusif meski AS menerapkan kebijakan tarif tertentu.
“Ini masih tarif yang lama, karena merupakan kesepakatan sebelumnya,” ujarnya.
Ia melaporkan ekspor DIY tumbuh sekitar 12 persen dari tahun ke tahun. Hingga akhir 2025, nilai ekspor daerah mencapai sekitar 417 juta USD. Kabupaten Bantul menjadi penyumbang terbesar, terutama melalui subsektor kerajinan, mebel, dan tekstil.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menegaskan bahwa sektor industri kreatif merupakan kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi daerah.
“Di Bantul ini ranking pertama kontributor PDRB adalah sektor industri termasuk industri kreatif, disusul pertanian dan pariwisata,” ujarnya.
Ia juga memuji kreativitas pelaku industri di Bantul yang tetap mampu menciptakan produk bernilai ekspor meski bahan baku didatangkan dari luar daerah.
“Ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas, walaupun tidak punya bahan baku, sektor industri kreatif tetap bisa eksis,” kata Halim.(Vinolla)
