Menurut Zuhardi, meskipun berada dalam kecamatan yang berbeda, dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari ekspansi sawit tersebut akan dirasakan seluruh masyarakat Kabupaten Lingga.
“Kami tidak alergi terhadap investasi. Kami tidak menolak pembangunan. Tapi jangan sampai investasi justru mengorbankan kehidupan masyarakat dan lingkungan, seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah di Sumatra dan Aceh,” tegasnya.
Zuhardi juga menyoroti kondisi sosial ekonomi Kabupaten Lingga yang disebut sebagai kabupaten termiskin di Provinsi Kepulauan Riau, dengan tingkat kemiskinan sekitar 9,9 persen. Ia menilai perluasan perkebunan sawit justru berpotensi memperburuk kondisi masyarakat.
Ia mengungkapkan, harga ganti rugi lahan yang diterima warga tergolong rendah. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, lahan masyarakat dibayar sekitar Rp2,5 juta per hektare.
“Bagaimana bisa bicara kesejahteraan kalau dari jual tanah saja sudah tidak sejahtera? Uang itu habis dalam hitungan hari. Lalu masyarakat mau hidup dari apa ke depan?” katanya.
