Kedua, Gus Yahya menyatakan bahwa sejak awal senantiasa menginginkan islah.
“Saya siap untuk berislah, binaan ‘alal haq, binaan ‘alal haq, binaan ‘alal haq, tidak binaan ‘alal bathil,” ucapnya.
“Dan saya sepenuhnya taslim (patuh) kepada apa yang telah disepakati oleh hadirin dari PWNU dan PCNU seluruh Indonesia, dan juga taujihat dari para mustasyar,” imbuhnya.
Menanggapi apa yang disampaikan dari kesepakatan PWNU dan PCNU untuk islah, Gus Yahya mengaku langsung berupaya menghubungi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
“Saya langsung mengirim pesan kepada Rais Aam, memohon waktu untuk menghadap. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban. Saya akan tunggu sampai 3×24 jam, dan saya akan melapor kembali,” katanya.
Musyawarah ini turut diikuti sejumlah tokoh NU, baik luring maupun daring. Dari jajaran mustasyar hadir KH Ma’ruf Amin (via Zoom), KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Said Aqil Siroj, dan KH Muhammad Nuh Addawami.
Sementara dari Rais Syuriyah PBNU hadir KH Ali Akbar Marbun, KH Haris Shodaqoh, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, dan KH Abdul Ghofur Maimoen.
