“Tidak ada lagi apa-apa, hanya tinggal baju di badan,” kata Syarifah.
Meski kehilangan hampir seluruh harta benda, semangat warga untuk bangkit masih tampak dari upaya mereka membersihkan desa secara bergotong-royong. Dampak bencana ini cukup dirasakan Simpang Tiga Meureudu sangat membutuhkan bantuan, terutama makanan, perlengkapan anak seperti pampers, serta tambahan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan.
Bahkan, lima hari pascabanjir bandang dan longsor, kondisi warga di beberapa titik terdampak di Pidie Jaya masih memprihatinkan. Di Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, sejumlah korban banjir mengaku masih menggunakan pakaian kotor bekas terjangan banjir karena tidak memiliki ganti.
Mereka juga belum bisa mandi dengan air bersih selama berhari-hari. Warga menyebut, rumah-rumah mereka tertimbun material lumpur banjir sehingga tidak bisa kembali masuk untuk mengambil pakaian ataupun barang kebutuhan lain.
Sebagian korban mulai mengutip pakaian bekas yang hanyut terbawa banjir dan tersangkut di pagar rumah maupun tumpukan kayu. Pakaian-pakaian itu kemudian dicuci menggunakan air bekas genangan banjir yang masih bercampur lumpur karena keterbatasan akses air bersih.
