Pertama, Kemenpora akan berkoordinasi dengan BPKP dan Kejaksaan untuk memastikan pengelolaan anggaran setiap cabang olahraga berjalan akuntabel.
Menurut Erick, kebutuhan tiap cabang berbeda-beda dan niat baik federasi harus terlindungi dari risiko pelanggaran aturan keuangan negara.
Langkah kedua ialah perbaikan DBON (Desain Besar Olahraga Nasional). Erick menegaskan bahwa daftar cabang olahraga prioritas sebelumnya sudah tidak sesuai dengan kondisi terkini.
Karena itu, pemerintah menyiapkan sistem promosi dan degradasi untuk menentukan cabang unggulan pada periode berikutnya, termasuk evaluasi pada 2028.
“Masuk daftar 21 cabang unggulan bukan berarti aman. Jika ada cabang yang mampu menunjukkan prestasi lebih baik, mereka bisa naik menggantikan,” ujarnya.
Padel, menurut Erick, masih memiliki peluang besar selama mampu menunjukkan kemampuan bersaing di tingkat Asia atau bahkan Olimpiade.
Erick juga memaparkan bahwa Kemenpora telah melakukan penyisiran anggaran secara menyeluruh.
Anggaran awal untuk Youth ASEAN Games dan Paragames yang hanya sebesar Rp3 miliar berhasil dioptimalkan hingga Rp59 miliar.
