Ia menegaskan bahwa padel bukan sekadar olahraga tren.
“Walaupun dianggap olahraga fomo, kami sudah membuktikan diri dengan prestasi,” katanya.
Galih menegaskan bahwa dirinya tidak ingin memberi tekanan berlebih kepada atlet, namun tetap optimistis.
“Saya tidak ingin memberi pressure, tapi saya percaya atlet-atlet kita bisa menjadi cabang olahraga berprestasi. Tahun depan banyak peluang—di ASEAN, Asia, hingga dunia. Ada potensi besar,” jelasnya.
Ia juga menyinggung peluang jangka panjang menuju Olimpiade.
“Kalau bicara Olimpiade, kita tahu target 2032. Qatar juga akan memasukkan cabang ini. Yang belum pasti adalah Los Angeles 2028—apakah inklusi padel di Nagoya bisa dibawa ke LA. Kalau iya, Indonesia punya kans besar karena kita sudah bicara dengan KOI dan telah mendapat formulir keanggotaan untuk mengikuti Asian Games,” tutup Galih.
Rakernas pertama PBPI ini menjadi langkah awal untuk memperkuat pondasi organisasi, meningkatkan prestasi, sekaligus membuka jalan padel Indonesia menuju panggung internasional yang lebih besar. (bam)
