Namun demikian, laporan PBB mengenai kepadatan penduduk Jakarta tersebut akan dijadikannya sebagai referensi untuk terus membangun dan memperbaiki Jakarta.
“Tetapi bagi saya itu merupakan referensi untuk kita semakin giat membangun, memperbaiki Jakarta,” sebut Pramono.
Berdasarkan data resmi dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Provinsi DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta yang teregistrasi berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) tercatat sebanyak 11.010.514 jiwa.
Namun, tidak dipungkiri Jakarta sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan menarik jutaan masyarakat dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi untuk beraktivitas setiap harinya.
Mereka datang untuk bekerja, bersekolah, dan berbisnis, sehingga menyebabkan kepadatan harian yang tinggi.
Karena itu, jumlah penduduk sebesar 42 juta jiwa yang tercatat dalam laporan PBB merupakan jumlah orang yang beraktivitas di Jakarta, bukan penduduk yang memiliki KTP Jakarta.
Dikutip dari laman worldpopulationreview.com, populasi Kota Jakarta berada di peringkat ke-28 dunia. Sedangkan lima kota dengan populasi terbanyak di dunia berturut-turut, yakni Tokyo (Jepang) sebanyak 37 juta jiwa, New Delhi (India) sebanyak 34 juta jiwa, Shanghai (Cina) sebanyak 30 juta jiwa, Dhaka (Bangladesh) sebanyak 24 juta jiwa, dan Kairo (Mesir) sebanyak 23 juta jiwa. (far)

