“Modernitas sebuah kota global tidak boleh menghilangkan akar kebudayaan masyarakatnya. IKN harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan sosial dan budaya, bukan hanya keberlanjutan teknologi,” ujarnya, melansir Minggu 14 Desember 2025.
Galuh menambahkan, pembangunan IKN membutuhkan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, akademisi, industri, serta komunitas lokal. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa pembangunan kota tidak hanya modern secara fisik, tetapi juga inklusif dan selaras dengan nilai sosial-budaya masyarakat Indonesia. Ia berharap riset sosial-budaya yang dilakukan PRMB-BRIN dapat berkontribusi pada pembangunan IKN yang mencerminkan kekayaan identitas Indonesia.
Sementara itu, Ari Nurlia memaparkan konsep Smart Forest City sebagai fondasi perencanaan Ibu Kota Nusantara. Konsep tersebut mengintegrasikan pemanfaatan teknologi modern dengan pelestarian lingkungan, sejalan dengan komitmen global terhadap pengurangan deforestasi dan pembangunan rendah karbon.

