IPOL.ID – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai harus menempatkan integrasi sosial-budaya sebagai fondasi utama agar kota baru ini tumbuh inklusif dan berkelanjutan, tidak hanya modern secara fisik.
Pandangan tersebut dikemukakan dalam seminar “Assembling Nusantara 2: The Collaborative and Integrative Paradigm of Indonesia’s New Capital City Toward a Global Modern City” yang digelar Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PMB) BRIN di Gedung Widya Graha BRIN Jakarta, baru-baru ini.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber dari PMB-BRIN, yaitu Galuh Indraprasta dan Ari Nurlia, yang memaparkan hasil riset terkait paradigma kolaboratif dan integratif dalam pembangunan IKN. Keduanya membahas kontribusi riset sosial-budaya dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) agar selaras dengan visi kota modern berkelas global.
Dalam presentasinya, Galuh menegaskan bahwa pembangunan IKN tidak dapat hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur dan teknologi. Ia menilai identitas sosial dan budaya Nusantara harus menjadi bagian utama dalam perencanaan kota baru.
