Setiap Hari Bersama Sepeda Motornya
Setiap pagi, saat langit masih biru pucat dan udara masih segar oleh embun yang belum menguap, Ardiansyah sudah bersiap. Dengan kemeja sederhana, sepatu hitam yang bersih, dan sebuah tas kerja yang mulai aus di sudut-sudutnya, ia menghidupkan sepeda motor tuanya. Motor itu bukan hanya alat transportasi. Ia adalah saksi perjalanan hidup. Hujan, panas, kemacetan, dan bahkan mogok di tengah jalan, semua sudah mereka lalui bersama. Tapi tak pernah sekalipun Ardiansyah mengeluh. Karena baginya, motor itu bukan tua, tapi setia. Ia berangkat sekitar pukul 06.30 pagi, menembus padatnya jalanan Kota Medan demi tiba tepat waktu. Dan meski harus melewati perjalanan pulang yang melelahkan, ia tetap menjaga sikap hormat dan sopan kepada rekan-rekannya, tetap tersenyum kepada satpam showroom, dan tetap memberikan laporan-laporan kerja dengan penuh tanggung jawab.
Keluarga adalah Motivasi, Bukan Beban
Di rumah, ada Dian, istrinya yang sudah mendampingi sejak masa-masa sulit. Mereka menikah muda, bertumbuh bersama, dan saling menopang dalam setiap fase kehidupan.Dian bukan hanya istri, tapi juga sahabat spiritual. Ia selalu mengingatkan Ardiansyah untuk menyandarkan diri pada Tuhan, terutama saat kelelahan mulai mengikis semangat. Dan ada Alif Emery Zayn Dawood, anak laki-laki mereka yang kini duduk di kelas satu SD. Usianya baru tujuh tahun, tapi kebanggaannya pada sang ayah sungguh luar biasa. Setiap kali mendengar suara motor di depan rumah, Alif berlari ke pintu dan menyambut dengan tawa, “Ayah pulang!”
