Di situlah seluruh kelelahan Ardiansyah seolah luruh dalam sekejap. “Rezeki itu bukan hanya gaji atau jabatan, tapi juga tawa anak yang menyambut kita pulang”
Kecelakaan Pulang Kerja
Kecelakaan itu terjadi dalam perjalanan pulang kerja, setelah Ardiansyah lembur menyelesaikan laporan administrasi pajak akhir tahun, tanggung jawab yang selalu ia jalankan dengan sepenuh hati. Motor yang ia kendarai menghantam bagian belakang truk besar yang terparkir tanpa lampu darurat di Jl. Kapten Sumarsono, Medan Helvetia. Jaraknya cukup jauh dari rumah, tapi itulah rutinitasnya setiap hari: dari Marelan ke Sunggal. Kecelakaan itu merenggut nyawa seorang ayah yang pulang membawa cinta, bukan sekadar lelah.
Tangis dan doa di rumah itu kini sunyi. Tapi bukan karena tak ada suara, melainkan karena suara tangis tak sanggup diucap. Alif terus memandangi foto ayahnya. Ia belum benar-benar mengerti kematian, tapi ia tahu satu hal: Ayahnya tidak akan membukakan pintu lagi, tidak akan menjemput lagi, tidak akan membisikkan doa lagi sebelum tidur. Dian, dengan kekuatan yang entah dari mana datangnya berusaha tetap berdiri. Ia tahu, hidup harus terus berjalan. Tapi ia juga tahu, separuh hatinya telah pergi Bersama suaminya.

