Tradisi serupa juga berlangsung saat perayaan hari besar agama lainnya, seperti Waisak dan Idul Fitri. Pada momen-momen tersebut, warga dengan latar belakang agama berbeda turut hadir untuk menyambut dan merayakan hari besar saudara mereka dengan penuh suka cita.
“Bagi kami tidak ada istilah ‘toleransi kebablasan’. Justru kami bangga karena inilah wujud nyata Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tulisnya.
Warga Dusun Thekelan menilai perbedaan keyakinan bukanlah batas dalam menjalin hubungan sosial. Kerukunan tidak dijalankan sebagai simbol atau seremoni semata, melainkan sebagai cara hidup yang tumbuh secara alami dan mengakar dari generasi ke generasi.
Kehadiran warga lintas iman yang saling menyapa, berjabat tangan, dan berbagi kehangatan menjadi bukti bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup berdampingan. Keragaman justru menjadi kekuatan yang melahirkan rasa saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.
“Di Thekelan, perbedaan bukan penghalang, melainkan anugerah dari Tuhan untuk kehidupan yang penuh kasih sayang,” tulisnya menutup unggahan tersebut.
