“Kami ingin mengajak setiap orang untuk melihat warna bukan hanya sebagai elemen visual, tetapi sebagai bagian dari pengalaman ruang yang dapat mendukung rasa aman, nyaman, dan seimbang dalam kehidupan sehari hari.
Setiap individu memiliki cara berbeda dalam menemukan ketenangan. Lewat Rhythm of Blues™, kami ingin menunjukkan bahwa ketenangan itu personal.
Ada biru untuk setiap ritme hidup dan setiap ruang. Warna bukan hanya soal tampilan, tetapi tentang bagaimana ruang bisa mendukung kekuatan emosional penggunanya,” jelas Ayu.
Dari perspektif arsitektur, Teguh Aryanto, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, menilai bahwa seiring meningkatnya kebutuhan akan ruang yang berorientasi pada kesejahteraan, warna kini menjadi bagian integral dalam perancangan.
“Dalam praktik desain saat ini, kami tidak lagi hanya memikirkan bentuk dan fungsi, tetapi juga bagaimana ruang memengaruhi kondisi mental penggunanya. Warna biru membantu menurunkan intensitas visual dan menciptakan rasa stabil, sehingga ruang terasa lebih tenang tanpa menjadi dingin atau pasif,” jelasnya.
