Inovatif, Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Pembuat Telur Asin Berbasis Sensor NIR
Lebih lanjut, inovasi ini memiliki kelengkapan alat dengan standar pengujian yang aman. Kelengkapan alat ini didasari dari spesifikasi desain kasar berukuran 53,4 x 56,3 x 50,2 sentimeter per kubik dengan waktu operasi lima jam berkapasitas 150 butir telur. Selain itu, penggunaan kelistrikan alat menggunakan daya 1.650 watt dan frekuensi 50 Hz yang dilapisi jenis material Galvanis dan SS316.
Lebih lanjut, inkubator otomatis ini dirancang dengan lima tahapan utama. Tahap pertama dibagi menjadi tiga subtahap yang dimulai dari perancangan sistem, penentuan kondisi operasi, hingga pembuatan model prediksi kemasiran. “Setelahnya, dilakukan pengujian kelengkapan komponen, pengujian fungsional dan hasil produk Osmoinc, serta diakhiri dengan uji coba calon pengguna,” tambah mahasiswa asal Madura tersebut.
Bukan hanya itu, pembuatan telur asin menggunakan Osmoinc terbagi menjadi empat tahapan penting. Tahap pertama, yaitu perendaman telur menggunakan asam asetat 15 persen selama lima menit. Selanjutnya, asam asetat dikeluarkan dengan pembilasan menggunakan air bersih, lalu dilakukan perebusan telur menggunakan NaCl 30 persen selama empat jam pada suhu 70 celsius. Terakhir, telur yang sudah direbus akan dilakukan pengecekan kemasiran melalui sensor NIR.
Meskipun terlihat kompleks, beberapa manfaat pokok terkandung melalui proses produksi alat ini. Contohnya, telur asin akan memiliki penetrasi garam yang lebih efisien dan daya simpan telur yang lebih meningkat. “Selain itu, telur asin yang semula cepat tumbuh mikroba, ketika menggunakan Osmoinc akan mengurangi kembangbiaknya sehingga mudah dikendalikan,” papar mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri tersebut.

