Menariknya, dari segmen generasi, menurut dia, Gen Z merupakan generasi yang paling keras menolak wacana yang mencuat dibandingkan generasi lainnya.
Segmen Gen Z sebanyak 84 persen menolak, Milenial sebanyak 71,4 persen menolak, Generasi X sebanyak 60 persen menolak, dan Baby Boomer sebanyak 63 persen menolak.
“Ini temuan krusial. Generasi yang lahir dan tumbuh sepenuhnya di era Pilkada langsung justru paling keras menolak penghapusannya. Secara sistemik tak hanya lintas generasi saja penolakan ini berlangsung, tapi semua generasi, mayoritas menolak Pilkada DPRD,” tandas Ardian.
“Baik masyarakat yang di desa 66,7 persen maupun yang di kota 66,7 persen pun menolak, isu ini tak hanya milik masyarakat di perkotaan, tapi masyarakat desa juga,” tambahnya.
Di samping itu, penolakan itu juga datang dari kalangan “Wong cilik”, yakni masyarakat berpenghasilan rendah maupun masyarakat berpenghasilan lebih tinggi.
Demikian halnya masyarakat berpendapatan lebih tinggi paling menolak wacana Pilkada oleh DPRD. Bagi mereka, Pilkada langsung bukan capaian reformasi, melainkan kenormalan demokrasi. Menghilangkannya terasa seperti kemunduran historis.
