Menurut Holis, aksi intimidasi itu dipicu oleh kritik yang kerap ia sampaikan terkait kondisi pembangunan desa yang dinilainya belum tertata dengan baik. Ia menyoroti akses jalan desa yang rusak parah dan dinilai menyulitkan aktivitas serta mobilitas warga sehari-hari.
Holis menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan bertujuan mencari popularitas, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi desanya.
“Saya bukan ingin tenar, tapi ingin desa saya baik,” tegasnya.
Viralnya video tersebut menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak pihak menilai peristiwa itu menjadi pengingat pentingnya ruang aman bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan aspirasi secara konstruktif, tanpa intimidasi. Publik berharap pihak terkait dapat menindaklanjuti peristiwa tersebut agar tidak terulang dan iklim demokrasi di tingkat desa tetap terjaga.
Merespons kejadian ini, Wakil Bupati Garut, Putri Karlina mengaku kecewa karena aksi intimidasi terhadap warga bukan pertama kalinya terjadi di wilayahnya.

