Dalam penelusuran tersebut, tim memfokuskan pemeriksaan pada menu MBG yang dibagikan kepada siswa. Menu yang disajikan terdiri dari soto ayam suwir, tempe goreng, sayur tauge, dan sambal kecap. Seluruh komponen makanan tersebut kini menjadi objek pemeriksaan laboratorium.
Nasihul memastikan sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi atau ketidaksesuaian standar keamanan pangan. Hasil uji laboratorium masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG Purwosari menyatakan siap menanggung biaya pengobatan para siswa yang terdampak. Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada siswa, orang tua, dan pihak sekolah atas insiden yang terjadi.
“Kami bertanggung jawab penuh atas penanganan medis siswa dan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan hingga distribusi makanan,” tegasnya.
Nasihul menambahkan, dari total 2.173 porsi MBG yang disalurkan ke 13 sekolah di wilayah tersebut, hingga kini hanya SMA 2 Kudus yang melaporkan kejadian gangguan kesehatan massal. Kendati demikian, pihaknya tetap melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang.
