Selain nama Widjaja, dokumen ini juga mencatat banyak tokoh dan istilah lain yang muncul dalam berbagai konteks — mulai dari pembicaraan email internal, laporan organisasi internasional, hingga referensi lokasi geografis. Bahkan kata “Indonesia” tercatat sebanyak 902 kali dalam Epstein Files, namun konteks rujukannya sangat beragam dan tidak selalu berkaitan dengan tuduhan atau keterlibatan dalam kasus kriminal Epstein.
Kasus ini memicu gejolak di media sosial, dengan netizen mendiskusikan berbagai nama tokoh Indonesia yang disebut, termasuk pejabat dan tokoh publik lain seperti, Hary Tanoesudibjo, Sri Mulyani Indrawati, Joko Widodo dan sejumlah warga sipil Indonesia lain. Namun, penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa penyebutan mereka dalam dokumen bisa bersifat administratif atau berasal dari arsip institusi internasional, bukan dari hubungan langsung dengan Epstein atau kriminalitas yang dituduhkan kepadanya.
Para pengamat hukum dan media juga mengingatkan publik untuk berhati-hati dalam menafsirkan Epstein Files. Mereka menekankan bahwa jutaan halaman dokumen itu mencakup berbagai file — termasuk email, catatan bisnis, dan materi lain yang tidak semuanya berkaitan dengan tindak kriminal Epstein. Oleh karena itu, hanya karena sebuah nama muncul dalam dokumen tidak berarti orang tersebut melakukan kesalahan atau terlibat dalam kasus Epstein.

