Kolaborasi dilakukan bersama Kemenko Pemberdayaan, KP2MI, dan lintas kementerian, dengan harapan memberikan dampak tidak hanya pada kesejahteraan dan kompetensi individu, tetapi juga pada perkembangan ekonomi sosial lebih luas.
“Pekerja migran diharapkan menjadi pejuang yang tidak hanya memperoleh pengalaman, tetapi juga berkontribusi dalam membangun Indonesia, daerah, dan desa mereka melalui hasil kerja diperoleh,” tukasnya.
Dalam bidang manufaktur, peserta akan melakukan pekerjaan teknis terkait proses produksi dan dukungan operasional sesuai penugasan di tempat kerja.
SMK terlibat merupakan lembaga yang memiliki keahlian sejalan bidang pekerjaan tersebut, dan sebagai pekerja migran, mereka harus memenuhi kualifikasi khusus yang telah dipersiapkan oleh Direkturat Pengembangan Kapasitas.
“Untuk skema penempatan, kerjasama terbaik dengan negara tujuan yang telah memiliki perjanjian kerja sama, termasuk sistem “zero cost”. Seluruh biaya persiapan, kompetensi, dan penempatan didukung secara kolaboratif dengan pihak Malaysia,” terangnya.

