Selain bekerja, para pekerja migran juga diimbau untuk meningkatkan pendidikan hingga jenjang S1, salah satunya melalui kerjasama dengan Universitas Terbuka atau universitas lain. Prinsip utama program ini memberikan kesempatan pengembangan diri, peserta dapat memperoleh pengalaman kerja dengan perspektif global, meningkatkan keterampilan, komunikasi, dan pendidikan melalui pembelajaran fleksibel atau alternatif lainnya.
“Pemerintah dan kementerian sangat mendukung kerjasama semacam ini, karena bukan hanya sekadar pekerjaan tapi juga kesempatan untuk mengembangkan potensi pengetahuan, keterampilan, dan pendidikan,” jelas Dwi.
Program ini sejalan dengan direktif Presiden untuk mencapai target penempatan 500 ribu pekerja migran per tahun, dengan strategi disesuaikan sesuai kualifikasi dan kompetensi dibutuhkan masing-masing negara tujuan. Target ini menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas SMK, lembaga terkait, guru, dan pekerja migran secara keseluruhan.
“Saat ini, remittance dari pekerja migran mencapai rata-rata 250 triliunan rupiah per tahun, dan dengan peningkatan jumlah pekerja migran jadi 500 ribu orang per tahun, diperkirakan dapat mencapai 500 triliunan rupiah dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini menjadikan sektor pekerja migran sebagai alternatif kompetitif, bahkan dapat menyamai sektor migas,” katanya.

