IPOL.ID – Sekitar tiga perempat laut Indonesia adalah laut dalam. Namun, laut dalam sering dianggap jauh dari keseharian.
Padahal, menurut A’an Johan Wahyudi, Peneliti Pusat Riset Laut Dalam – BRIN, banyak keputusan di permukaan bertumpu pada proses yang terjadi di kedalaman. Pola musim ikan, kekuatan badai, stabilitas pelabuhan, hingga keselamatan rute tol laut dipengaruhi oleh arus, gelombang, oksigen, nutrien, dan karbon yang bergerak ribuan meter di bawah permukaan. Kedalaman yang tak terlihat itu sesungguhnya bekerja senyap menopang kehidupan di atasnya.
Laut dalam sering hadir sebagai angka teknis: arus, suhu, salinitas, oksigen, karbon, dan koordinat. Bahasa itu penting bagi ilmuwan, namun kurang dekat bagi publik. Karena itulah, muncul gagasan lima cara memandang laut dalam dengan bahasa yang lebih akrab, agar kedalaman samudra tidak lagi terasa asing bagi bangsa maritim.
Panca Samudra Nusantara
Samudra Adhikara adalah fondasi. Ia merangkum upaya membangun peta dasar laut dalam Indonesia, misalnya bentuk dasar laut, jenis sedimen, dan ekosistemnya. Tanpa fondasi ini, keputusan tentang lokasi pelabuhan, kabel bawah laut, atau kawasan konservasi mudah keliru. Adhikara mengingatkan bahwa setiap langkah di laut memerlukan pijakan pengetahuan yang kokoh.
Samudra Caksana adalah mata yang terus berjaga. Melalui pengamatan berkelanjutan terhadap variabel laut (suhu, arus, gelombang, nutrien, oksigen, dll), kita dapat membaca denyut laut; misalnya kapan ikan mendekat, kapan perairan pesisir berisiko kekurangan oksigen, atau kapan rute pelayaran perlu diubah. Caksana menjembatani sains dengan keputusan harian nelayan, operator pelabuhan, dan pengelola tol laut.
“Samudra Jiwana membuka jendela kehidupan tersembunyi. Mikroba dan organisme laut dalam menyimpan senyawa unik yang berpotensi menjadi antibiotik baru, enzim industri, hingga pangan fungsional. Jiwana menempatkan laut dalam sebagai laboratorium alami bagi masa depan kesehatan dan bioteknologi Indonesia,” ujar A’an Johan Wahyudi.
Samudra Gati berbicara tentang dinamika dan kewaspadaan. Longsor bawah laut, gempa, dan tsunami berawal dari proses geologi yang harus dipahami agar sistem peringatan dini bekerja lebih cepat. Gati menghubungkan pengetahuan kedalaman dengan keselamatan jutaan penduduk pesisir.
Terakhir, Samudra Kala mengingatkan bahwa laut dalam adalah mesin iklim. Ia menyerap panas dan karbon bumi, memengaruhi siklus hujan dan kekuatan badai. Memahami Kala berarti membaca arah masa depan perubahan iklim Indonesia.
Lima sudut pandang ini bukan sekadar istilah. Ia adalah lima misi nasional laut dalam (National Deep Sea Mission):
– Deep-Sea Baseline Indonesia melalui Samudra Adhikara,
– Deployment Indonesia Ocean Observing System (IOOS) and Time-Series Observations melalui Samudra Caksana,
– Deep Biosphere and Marine Genetic Resources melalui Samudra Jiwana,
– Ocean Hazards, Subduction, and Seafloor Processes melalui Samudra Gati, dan
– Deep-Sea Carbon and Climate Engine melalui Samudra Kala.
Dengan kerangka tersebut, laut dalam tidak lagi dipandang sebagai ruang gelap di peta, melainkan sebagai sistem yang dapat dipahami, dipantau, dan dikelola untuk kepentingan publik.
Dari Literasi Laut Nasional Menuju Peran Regional
Namun, Panca Samudra Nusantara tidak berhenti pada urusan dalam negeri. Indonesia berada di jantung sirkulasi Indo-Pasifik, jalur air yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia, memengaruhi iklim dari Australia hingga Asia Timur. Posisi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar sebagai Scientific Orchestrator of the Indo-Pacific Deep Ocean.
Peran itu setidaknya memiliki tiga wajah. Pertama, sebagai agenda setter, yaitu bahwa negara ikut menentukan pertanyaan riset apa yang penting bagi kawasan. Misalnya, bagaimana perubahan iklim memengaruhi perikanan tropis, bagaimana risiko bencana bawah laut dipetakan, dan bagaimana sumber daya genetik laut dikelola secara adil.
Kedua, sebagai data provider. Melalui observasi berkelanjutan dan pusat data nasional, Indonesia dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan negara tetangga, industri pelayaran, hingga komunitas ilmiah global. Data bukan sekadar angka; ia adalah bahasa diplomasi baru di abad maritim.
Ketiga, sebagai collaboration leader dan guardian of regional ocean interests. Laut Indo-Pasifik adalah ruang bersama. Kepemimpinan Indonesia dapat memastikan bahwa eksplorasi, pemanfaatan, dan perlindungan laut dalam berjalan seimbang, menghormati kepentingan negara berkembang dan masyarakat pesisir.
Panca Samudra Nusantara memberi kerangka agar peran itu tidak abstrak. Adhikara menyediakan fondasi pengetahuan regional, Caksana menghubungkan jejaring observasi, Jiwana membuka kerja sama bioteknologi, Gati memperkuat sistem peringatan dini lintas negara, dan Kala menyatukan upaya mitigasi iklim.
Manfaat Riset Laut Dalam
Bagi publik, kepemimpinan itu baru bermakna bila terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kalender musim ikan menjadi lebih akurat, itulah buah Samudra Caksana. Saat pelabuhan baru dibangun di lokasi yang aman dari longsor bawah laut, itulah kerja Samudra Adhikara dan Gati. Ketika sekolah vokasi pesisir mengajarkan navigasi berbasis data, itulah terjemahan Panca Samudra di ruang kelas.
Demikian pula dalam kesehatan. Senyawa dari mikroba laut dalam yang suatu hari menjadi obat, akan menjadi bukti nyata Samudra Jiwana. Dan ketika Indonesia ikut memimpin upaya pengurangan karbon laut global, Samudra Kala menemukan relevansinya.
Karena itu, jelas A’an Johan Wahyudi, mengenalkan Panca Samudra Nusantara ke ruang publik sama pentingnya dengan membangun laboratorium. Bahasa yang dekat akan melahirkan rasa memiliki. Tanpa dukungan masyarakat, sistem observasi terbaik pun mudah menjadi menara gading.
Sejarah menunjukkan, bangsa yang mampu menamai lautnya sendiri lebih mudah merawatnya. Panca Samudra Nusantara adalah langkah awal menata ingatan kolektif tentang kedalaman Indonesia, dari laboratorium kampus hingga warung kopi di pelabuhan. Tentu perjalanan masih panjang. Lima misi nasional itu memerlukan kolaborasi lembaga riset, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah. Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari cara kita berbicara tentangnya.
Ketika terjadi perubahan iklim dan dinamika geopolitik samudra seperti saat ini, Indonesia memiliki kesempatan menjadi pengarah, bukan sekadar penonton. Dengan menjadikan Panca Samudra Nusantara sebagai bahasa bersama, kita membuka jalan agar laut dalam tidak lagi sunyi, melainkan berbicara kepada bangsa yang hidup di atasnya. (ahmad)
