“Yang paling penting bukan apa yang kita tulis, tetapi apa yang benar-benar diterima publik,” katanya.
Menurut Meutya, informasi resmi yang akurat pun dapat kehilangan makna apabila tenggelam di tengah derasnya arus hoaks dan narasi keliru. Oleh karena itu, humas pemerintah dituntut adaptif, sigap, dan memahami pola konsumsi informasi masyarakat digital.
“Kalau informasi yang benar kalah gaungnya dengan disinformasi, itu juga bentuk kegagalan komunikasi,” tandasnya.(Vinolla)
