Habib menilai, kejadian ini menunjukkan rapuhnya sistem deteksi dini terhadap kondisi psikososial anak, terutama di daerah terpencil dan miskin.
“Anak-anak di usia itu belum memiliki mekanisme pertahanan mental. Ketika kebutuhan sekolah tidak terpenuhi, beban itu bisa berubah menjadi tekanan yang sangat berat,” kata dia.
Politikus PKB itu juga menyinggung besarnya anggaran pendidikan dalam APBN yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Menurutnya, tragedi ini menunjukkan bahwa besarnya anggaran belum otomatis menjamin pemerataan manfaat.
“Seharusnya, dengan anggaran pendidikan sebesar itu, kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis tidak lagi menjadi masalah, apalagi sampai memicu tragedi kemanusiaan,” tegas Habib.
Ia mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk segera melakukan investigasi menyeluruh, termasuk menelusuri apakah bantuan pendidikan di wilayah tersebut telah tepat sasaran.
Lebih jauh, Habib menekankan pentingnya peran sekolah dan guru sebagai garda terdepan dalam memantau kondisi ekonomi dan mental siswa. Ia menilai sekolah seharusnya memiliki sistem pendataan dan respons cepat ketika mendapati siswa yang mengalami kesulitan ekstrem.
