“Jangan sampai kita puluhan kali menghubungi relasi bisnis, tapi lupa menyapa orang tua. Padahal tanpa mereka, kita tidak akan berada di posisi sekarang,” tegasnya.
Mudik, lanjutnya, menjadi cara untuk mengasah kepekaan batin, termasuk dengan mengunjungi rumah masa kecil hingga berziarah ke makam orang tua.
Nasaruddin juga menekankan bahwa perjalanan mudik dapat bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar. Bahkan, dalam sejumlah hadis, disebutkan bahwa seseorang yang wafat dalam perjalanan suci dengan niat baik dapat memperoleh keutamaan syahid.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan mudik sebagai bagian dari praktik ihsan, yakni menjalankan aktivitas dengan kesadaran spiritual yang tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama juga menyoroti momentum langka ketika berbagai hari besar keagamaan berlangsung berdekatan, seperti Ramadhan, Imlek, Nyepi, dan Paskah.
Ia mencontohkan kesepakatan toleransi di Bali, di mana umat Islam tetap dapat melaksanakan takbir di masjid saat malam menjelang Idulfitri, dengan penyesuaian terhadap pelaksanaan Hari Nyepi umat Hindu.
