Oleh karena itu, ia pun sempat menjauh dari mimpinya menjadi seorang dalang. Namun, dengan tekad lebih kuat, ia kembali belajar secara otodidak melalui media sosial dan buku hingga meraih berbagai prestasi. Pada acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS, ia bahkan membawakan cerita wayang dalam tiga bahasa, yakni Inggris, Jawa, dan Mandarin. “Saya sempat berhenti mendalang, tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” ujar pemuda yang gemar juga membaca buku ini.
Langkahnya tak berhenti sampai di situ. Sebagai mahasiswa, ia sering melakukan riset budaya dan sosial masyarakat. Untuk kelulusannya sebagai sarjana, ia telah mengerjakan tugas akhir berjudul Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme yang membahas tentang bagaimana orang dengan rhotasisme di kota bisa mengalami inklusi sosial. “Bahkan, salah satu penelitian saya telah mengantarkan saya menjadi pembicara dalam forum bertaraf dunia, International Symposium on Javanese Culture 2024,” ungkap pemuda kelahiran Surabaya ini dengan bangga.
