IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerima kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan untuk memperkuat koordinasi pengawasan pangan, serta kapasitas pengujian ketenaganukliran melalui kolaborasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga.
Kunjungan berlangsung di Kawasan Nuklir Serpong (KNS), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Serpong, pada pekan ini.
Agenda tersebut menjadi langkah strategis untuk mendukung riset dan pengelolaan nuklir yang terintegrasi dengan pengembangan sektor pangan nasional. Dalam kegiatan ini, para peserta meninjau langsung kapabilitas laboratorium, tata kelola pengalihan material nuklir, serta pengelolaan limbah radioaktif. Selain itu, dilakukan pula diskusi teknis mengenai kesiapan infrastruktur dan sistem kerja yang dimiliki BRIN.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi antarinstansi terkait, terutama menjelang rencana inspeksi dan kerja sama teknis dengan lembaga internasional seperti Food and Drug Administration (FDA) dan United States Department of Energy (DOE).
“Harapan kami, saat menerima FDA dan DOE, kita sudah memiliki gambaran yang sama tentang fasilitas yang ada dan bagaimana pengelolaan limbah dilakukan,” ucap Syaiful.
Menurutnya, penguatan sinergi dilakukan melalui peninjauan kesiapan peralatan dan metodologi pengujian, diskusi internal untuk mengidentifikasi kebutuhan alat serta kompetensi sumber daya manusia, hingga penyusunan langkah antisipatif terhadap kemungkinan inspeksi atau pengambilan sampel oleh tim internasional.
Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Bara Krishna Hasibuan, menilai kunjungan ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai kapasitas laboratorium BRIN dalam mendukung keamanan pangan nasional.
“Kunjungan ini sangat bermanfaat, semacam eye-opener. Kita dapat melihat langsung laboratorium yang digunakan untuk menguji kemungkinan kontaminasi radioaktif pada sampel pangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kasus kontaminasi Cesium-137 pada produk ekspor Indonesia pada tahun sebelumnya berdampak pada meningkatnya persyaratan sertifikasi produk pangan ke Amerika Serikat. Sejumlah negara kini mewajibkan proses sertifikasi dan pengujian laboratorium sebelum produk pangan dapat memasuki pasar internasional.
“Dalam konteks tersebut, laboratorium BRIN memiliki peran penting untuk memastikan pengujian kontaminasi radioaktif pada produk pangan Indonesia, sehingga standar keamanan ekspor dapat terpenuhi,” sebut Bara.
Melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga ini, BRIN berharap sistem pengujian nasional semakin kuat, reputasi ekspor pangan Indonesia tetap terjaga, serta kesiapan menghadapi tantangan global di bidang ketenaganukliran dan keamanan pangan dapat terus meningkat. (ahmad)
