Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan data periode 1990–2018, sumber ekspansi perkebunan sawit di Indonesia mayoritas berasal dari lahan terdegradasi, bukan dari hutan tak terganggu. Hal ini menunjukkan pentingnya membaca data secara utuh sebelum membentuk opini.
“Mahasiswa harus menjadi agen pengetahuan, bukan sekadar konsumen opini. Kampus adalah ruang netral berbasis sains, tempat kita menguji informasi dengan data dan pendekatan ilmiah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan sawit Indonesia. Tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai calon pengelola sawit berkelanjutan di masa depan.
“Generasi muda menentukan nasib kelapa sawit Indonesia. Pertanyaannya, siapkah kita menjadi bagian dari pengelolaan sawit yang berkelanjutan?” ujarnya menutup sesi.
Didukung BPDP, kegiatan ini memperkuat literasi sawit berbasis akademik dan mendorong lahirnya generasi muda yang kritis serta siap berkontribusi pada sawit berkelanjutan. (bam)
