IPOL.ID-Dominasi panjang Marc Márquez di Circuit of the Americas (COTA), Austin, akhirnya menyisakan satu noda yang sulit dilupakan. Setelah bertahun-tahun tampil nyaris sempurna dan tak tersentuh, rekor kemenangan beruntun sang pembalap di sirkuit tersebut justru runtuh karena kesalahannya sendiri pada MotoGP Austin 2019.
Sejak pertama kali MotoGP menggelar balapan di Austin pada 2013, Marc Marquez langsung menunjukkan kelasnya. Ia memenangi balapan tersebut secara beruntun hingga 2018, menjadikannya sebagai penguasa mutlak lintasan COTA. Julukan “Raja COTA” pun melekat kuat, seolah tidak ada satu pun pembalap yang mampu menggoyahkan dominasinya.
Memasuki musim 2019, ekspektasi publik kembali tertuju pada Marc Márquez. Ia tampil meyakinkan sejak sesi kualifikasi dengan mengamankan posisi pole. Saat balapan dimulai, pembalap asal Spanyol itu langsung melesat meninggalkan para rivalnya dan menciptakan jarak yang cukup jauh.
Di pertengahan lomba, Márquez bahkan sudah unggul lebih dari tiga detik dari pesaing terdekatnya, Valentino Rossi. Situasi tersebut membuat banyak pihak yakin bahwa kemenangan ketujuh secara beruntun di Austin hanya tinggal menunggu waktu.
Namun, kejutan besar terjadi pada lap ke-11. Saat memimpin dengan nyaman, Márquez mengalami low-side crash di salah satu tikungan. Motor RC213V yang dikendarainya kehilangan traksi, membuatnya terjatuh dan gagal melanjutkan balapan.
Insiden tersebut menjadi titik balik yang dramatis. Untuk pertama kalinya sejak 2013, Márquez gagal menaklukkan COTA bukan karena kalah bersaing, melainkan akibat kesalahan sendiri. Rekor sempurnanya pun runtuh dalam sekejap.
Pasca jatuhnya Márquez, peluang kemenangan terbuka lebar bagi para rival. Rossi sempat memimpin jalannya balapan dan berada di posisi terdepan untuk meraih kemenangan bersejarah di Austin. Namun, tekanan terus datang dari pembalap lain.
Pada lap-lap akhir, Álex Rins berhasil menyalip Rossi dan merebut posisi pertama. Rins akhirnya keluar sebagai pemenang, sementara Rossi harus puas finis di posisi kedua.
Hasil tersebut semakin menegaskan bahwa runtuhnya dominasi Márquez bukan hanya soal kehilangan kemenangan, tetapi juga membuka era baru persaingan di COTA. Sirkuit yang sebelumnya terasa “milik pribadi” kini kembali menjadi arena terbuka bagi semua pembalap.
Meski begitu, nama Márquez tetap tak tergantikan dalam sejarah MotoGP Austin. Rekor kemenangannya yang luar biasa tetap menjadi tolok ukur, sekaligus pengingat bahwa bahkan pembalap terbaik pun tidak luput dari kesalahan.
Menariknya, pada gelaran MotoGP Austin musim ini, perhatian publik Indonesia juga tertuju pada pembalap muda Beda Ega Pratama yang akan turun di kelas Moto3.
Ia memiliki peluang emas untuk kembali mencetak prestasi setelah sebelumnya sukses meraih podium ketiga di MotoGP Brasil 2026, sekaligus membuka harapan besar bagi kebangkitan talenta Tanah Air di kancah dunia. (bam)
