Negara seperti Bahrain dan Qatar bahkan mengandalkan 100 persen air minumnya dari proses tersebut. Sementara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memenuhi sebagian besar kebutuhan airnya melalui fasilitas serupa.
Artinya, serangan terhadap infrastruktur listrik berpotensi memicu krisis kemanusiaan besar-besaran di kawasan gurun tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan memperingatkan bahwa fasilitas energi di Timur Tengah bisa “hancur secara permanen” jika konflik terus meningkat.
Tak hanya itu, Garda Revolusi Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Mereka menegaskan, jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sampai pembangkit listrik Iran yang rusak dibangun ulang.
Meski Iran mengklaim selat masih terbuka untuk kapal tertentu dengan koordinasi keamanan, data pelacakan menunjukkan sebagian besar kapal memilih menahan diri dan tidak melintas.
Dampaknya langsung terasa. Harga minyak global bergejolak, sementara harga gas di Eropa melonjak tajam hingga 35 persen dalam sepekan terakhir.

