“Banyak yang komplain. Ibu-ibu mau ke gereja, anak sekolah, kesulitan menyeberang karena zebra cross-nya nggak ada,” katanya.
Aksi kolaboratif antara warga dan seniman ini menjadi bentuk protes sekaligus solusi cepat atas lambatnya penyediaan fasilitas publik. Meski dikemas kreatif, Ijoel menegaskan fungsi utama zebra cross tetap menjadi prioritas.
“Kami pastikan 80 persen tetap terlihat sebagai zebra cross supaya fungsinya terjaga dan tidak membahayakan,” jelasnya.
Di sisi lain, Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta mengapresiasi inisiatif masyarakat. Namun, mereka mengingatkan bahwa pembuatan marka jalan harus sesuai standar teknis demi keselamatan semua pengguna jalan.
Kapusdatin Dinas Bina Marga, Siti Dinarwenny, menjelaskan hilangnya zebra cross sebelumnya disebabkan oleh pekerjaan pemeliharaan jalan dan peningkatan trotoar pada akhir 2025, yang menutup marka lama dengan lapisan aspal baru.
Ia juga menambahkan bahwa pemasangan ulang marka membutuhkan waktu, karena harus menunggu kondisi jalan benar-benar kering agar material dapat menempel optimal.
