“Bahkan saya juga meminta testimoni dari orangtua. Saya mengkritik, tapi kalau sudah diperbaiki ya diberi apresiasi,” katanya.
Ia menyebut, protes terhadap menu MBG bukan kali pertama dilakukan. Selama ini, jika ditemukan susu, nasi, atau rasa makanan yang kurang sesuai, pihak sekolah langsung menyampaikan kepada SPPG.
“Kalau komplain mungkin lima atau enam kali, tapi selama itu respons dari SPPG sangat cepat dan bagus,” ujarnya.
Jumarti berharap kejadian tersebut menjadi momentum perbaikan internal, terutama dalam pengawasan kualitas makanan, terlebih menjelang dan selama Ramadan ketika siswa membutuhkan asupan gizi seimbang.
Sementara itu, Kepala SPPG Sawahan Kecandran, Sarah Alfi Maiza, mengakui kejadian tersebut disebabkan kurang telitinya petugas saat proses pemorsian.
“Saat di bagian pemorsian, ada 8–10 buah kurang layak yang lolos. Kondisinya gembur di dalam mika sehingga sempat terdistribusi,” jelasnya.
Ia memastikan pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh dengan menerapkan penyortiran tiga tahap, mulai dari peracikan bahan, proses memasak, hingga pemorsian akhir sebelum distribusi.
