Ia menjelaskan, setiap paket makanan berisi dua potong tahu, dua potong tempe, dan ikan lele mentah yang dikemas dalam kotak plastik. Namun, aroma amis yang cukup kuat membuat sebagian siswa dan bahkan wali murid merasa keberatan menerima makanan tersebut.
Penjelasan tersebut juga disampaikan Arifin melalui sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Dalam video itu, ia memperlihatkan kondisi paket makanan yang ditolak pihak sekolah.
Arifin juga menambahkan, pihak sekolah khawatir jika makanan yang dianggap tidak layak konsumsi tersebut tetap dibawa pulang oleh siswa, maka dikhawatirkan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan di area sekolah.
“Kami sudah menghubungi pihak penyedia untuk menyampaikan keluhan dan meminta agar kualitas makanan yang didistribusikan bisa diperbaiki,” ujarnya.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak penyedia menu dari SPPG As-Salman menyampaikan permohonan maaf. Ahli gizi SPPG As-Salman Fikri Mutawakkil mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi makanan dalam program tersebut.
