“Hal-hal tersebut adalah problem yang tidak sederhana,” ucap legislator yang membidangi urusan pendidikan ini.
Ia menyoroti fenomena learning loss yang terjadi selama masa pembelajaran daring di pandemi. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya minat belajar siswa hingga kecenderungan mengabaikan kegiatan sekolah.
Menurutnya, penurunan kemampuan kognitif pelajar pasca pembelajaran jarak jauh juga terlihat dari berbagai pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia. Tidak hanya berdampak pada akademik, sistem daring juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan kesehatan fisik siswa.
“Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter,” jelasnya.
Atas dasar itu, Esti mendesak pemerintah mencari alternatif kebijakan lain dalam menghadapi dampak kondisi global, termasuk kemungkinan kenaikan harga minyak. Ia menegaskan sektor pendidikan tidak boleh menjadi korban dari kebijakan tersebut.
“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia,” katanya. (far)

