IPOL.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon, meski sebelumnya telah diumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan tersebut memicu kecaman internasional serta balasan dari Iran yang kembali meluncurkan rudal ke wilayah Israel.
Serangan udara Israel pada beberapa hari terakhir dilaporkan menghantam sejumlah wilayah padat penduduk di Beirut dan wilayah lain di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan lebih dari 200 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat bombardir tersebut.
Sejumlah pihak menilai aksi militer Israel tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa serangan itu merupakan “pelanggaran serius terhadap gencatan senjata” dan akan berdampak luas terhadap keberlanjutan perjanjian damai.
Sementara itu, pejabat Israel menyatakan operasi militer tetap dilanjutkan karena konflik dengan Hizbullah dianggap terpisah dari kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan pihaknya akan terus menyerang target-target Hizbullah di Lebanon.
Di sisi lain, Iran mengecam keras serangan tersebut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap syarat gencatan senjata yang telah disepakati. Ia menyatakan pada Kamis (9/4/2026) bahwa kelanjutan serangan “membuat negosiasi menjadi tidak masuk akal.”
Sebagai respons, kelompok Hizbullah yang didukung Iran kembali meluncurkan roket ke wilayah Israel. Iran juga meningkatkan tekanan dengan memperingatkan kemungkinan menarik diri dari kesepakatan damai jika serangan terus berlanjut.
Laporan media internasional menyebutkan bahwa serangan Israel ke Lebanon menjadi salah satu yang terbesar sejak konflik regional pecah, dengan ratusan korban jiwa dalam waktu singkat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa turut mengecam eskalasi tersebut. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres melalui juru bicaranya menyatakan serangan Israel yang terjadi setelah pengumuman gencatan senjata sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima” karena menewaskan ratusan warga sipil.
Situasi ini membuat gencatan senjata yang baru saja diumumkan berada di ambang kegagalan. Sejumlah pengamat menilai aksi Israel berpotensi menggagalkan upaya diplomasi dan memperluas konflik kawasan, terutama dengan keterlibatan langsung Iran dalam mendukung Hizbullah. (tim)
