Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, sebagian produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor.
Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah. “Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” papar Hosta.
Tak hanya unggul secara teknis, Hosta sebagai ketua peneliti menjelaskan bahwa riset ini turut mempertimbangkan life cycle assessment (LCA) dalam prinsip terbarukan dan berkelanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses produksi biogasoline dari CPO memiliki jejak karbon yang sangat rendah, sehingga sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan.
Sistem produksi yang menerapkan zero emission yang dikembangkan tim peneliti ITS ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
