Hosta juga menerangkan bahwa rancangan inovasinya tersebut didedikasikan untuk kemandirian teknologi Indonesia. Hingga saat ini, teknologi inovasinya sudah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang memiliki fleksibilitas modifikasi yang tinggi. Menurut Hosta, hal ini dipilih karena mesin pertanian lebih terbuka untuk adaptasi dengan bahan bakar alternatif. “Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif,” ungkap Hosta.
Lahirnya kemandirian teknologi dalam produksi bensin tentu akan menekan nilai jual kepada masyarakat. Diketahui juga bahwa hingga saat ini, produsen minyak dan gas di Indonesia masih bergantung pada alat dan mesin produksi milik pihak dari luar negeri, seperti Amerika Serikat.
Ke depannya, Hosta ingin terus mengembangkan inovasinya sehingga dapat terimplementasi lebih luas lagi dengan kapasitas produksi yang lebih besar. Dengan demikian, diharapkan dapat menjawab ancaman krisis energi di Indonesia. Hal tersebut juga turut menjawab SDGs poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.
