”Hasilnya terlihat jelas. Status turnback atau pembalikan keadaan ini adalah buah dari soliditas internal. Dengan laba Rp 220 Miliar di kuartal pertama, target Rp 1 Triliun di akhir tahun bukan sekadar ambisi, melainkan hasil logis dari manajemen yang sehat,” tambah Lintang.
Lebih lanjut, Lintang menekankan bahwa apa yang dilakukan Bank Jakarta seharusnya menjadi percontohan bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) lainnya di Jakarta. Harmonisasi antara produktivitas dan kebahagiaan karyawan terbukti mampu menciptakan ekosistem kerja yang profesional sekaligus kompetitif.
”Ini adalah bukti nyata bahwa mengapresiasi karyawan bukanlah pemborosan, melainkan investasi. Karyawan yang loyal dan bersemangat adalah penggerak utama peningkatan profitabilitas dan kualitas layanan publik bagi seluruh warga Jakarta,” pungkasnya.
BAJA berharap momentum kebahagiaan dan keberhasilan finansial ini menjadi katalisator bagi Bank Jakarta untuk terus melakukan akselerasi transformasi digital. Dengan kondisi internal yang solid dan performa keuangan yang impresif, Bank Jakarta diyakini akan semakin tangguh menjadi motor penggerak ekonomi utama di Ibukota.(Sofian)
